REKRUTMEN DAN SELEKSI CALON
KARYAWAN SEBAGAI APOTEKER DAN ASISTEN APOTEKER RS BERDASARKAN KOMPETENSI
Oleh: dr.Indra Budi Haryadi
Mahasiswa ANGKATAN 23 B PRODI MARS
S2 UNIVERSITAS RESPATI INDONESIA
I.
LATAR
BELAKANG
Dalam organisasi di RS selalu terbuka kemungkinan untuk
terjadinya berbagai lowongan dengan aneka ragam penyebabnya. Misalnya, karena
perluasan kegiatan organisasi tercipta pekerjaan-pekerjaan dan kegiatan baru
yang sebelumnya tidak dilakukan oleh para pekerja dalam organisasi.Lowongan
pekerjaan juga bisa timbul karena ada pekerja yang berhenti dan pindah ke
organisasi lain. Mungkin pula lowongan terjadi karena ada pekerja yang
diberhentikan.Alasan lain adalah karena ada pekerja yang berhenti karena telah
mencapai usia pensiun.Lowongan bisa pula terjadi karena ada pekerja yang
meninggal dunia.Apapun alasan terjadinya lowongan dalam suatu organisasi , yang
jelas ialah bahwa lowongan itu harus diisi, bahkan tidak mustahil ada lowongan
yang harus diisi dengan segera.Salah satu teknik pengisiannya adalah melalui
proses rekrutmen. Dengan demikian sebagai definisi dapat dikatakan bahwa
rekrutmen adalah proses mencari , menemukan dan menarik para pelamar yang
kapabel unuk dipekerjakan dalam dan oleh suatu organisasi.
Proses
rekrutmen dimulai pada waktu diambil langkah mencari pelamar dan berakhir
ketika para pelamar mengajukan lamarannya. Artinya secara konseptual dapat
dikatakan bahwa langkah yang segera mengikuti proses rekrutmen yaitu seleksi,
bukan lagi merupakan bagian dari rekrutmen.Jika proses rekrutmen ditempuh
dengan tepat dan baik,hasilnya ialah sekelompok pelamar yang kemudian diseleksi
guna menjamin bahwa hanya yang paling memenuhi semua persyaratanlah yang
diterima sebagai pekerja dalam organisasi yang memerlukannya.Proses rekrutmen
dan seleksi mengacu pada kompetensi yaitu ketrampilan, pengetahuan, dan
perilaku.
Dalam
proses rekrutmen dan seleksi calon Asisten Apoteker di RS, tetap mengacu pada
kompetensi yang dimiliki calon pekerja sebagai Asisten Apoteker di RS .Kompetensi
yang paling berpengaruh dalam rekrutmen dan seleksi adalah Perilaku dari calon
karyawan1.
Secara
lebih rinci, Spencer dan Spencer dalam Palan (2007:84) mengemukakan bahwa
kompetensi menunjukkan karakteristik yang mendasari perilaku yang menggambarkan
motif, karakteristik pribadi (ciri khas), konsep diri, nilai-nilai, pengetahuan
atau keahlian yang dibawa seseorang yang berkinerja unggul (superior performer)
di tempat kerja. Ada 5 (lima) karakteristik yang membentuk kompetensi yakni 1).
Faktor pengetahuan meliputi masalah teknis, administratif, proses kemanusiaan,
dan sistem. 2). Keterampilan; merujuk pada kemampuan seseorang untuk melakukan
suatu kegiatan. 3). Konsep diri dan nilai-nilai; merujuk pada sikap,
nilai-nilai dan citra diri seseorang, seperti kepercayaan seseorang bahwa dia
bisa berhasil dalam suatu situasi. 4). Karakteristik pribadi; merujuk pada
karakteristik fisik dan konsistensi tanggapan terhadap situasi atau informasi,
seperti pengendalian diri dan kemampuan untuk tetap tenang dibawah tekanan. 5).
Motif; merupakan emosi, hasrat, kebutuhan psikologis atau dorongan-dorongan
lain yang memicu tindakan.
Pernyataan
di atas mengandung makna bahwa kompetensi adalah karakteristik seseorang yang
berkaitan dengan kinerja efektif dan atau unggul dalam situasi pekerjaan
tertentu. Kompetensi dikatakan sebagai karakteristik dasar (underlying
characteristic) karena karakteristik individu merupakan bagian yang
mendalam dan melekat pada kepribadian seseorang yang dapat dipergunakan untuk
memprediksi berbagai situasi5
II.
Analisa
dalam Rekrutmen serta Seleksi Apoteker
dan Asisten Apoteker
di
RS
Kiranya perlu ditekankan terlebih dahulu bahwa dalam
menjalankan tugasnya mencari calon-calon pegawai, para pencari tenaga kerja
suatu organisasi harus menyadari bahwa mereka menghadapi berbagai kendala.
Beberapa penelitian dan pengalaman banyak orang dalam hal rekrutment
menunjukkan bahwa kendala yang biasa dihadapi itu dalam mengambil tiga bentuk,
yaitu kendala yang bersumber dari organisasi yang bersangkutan sendiri,
kebiasan para pencari tenaga kerja sendiri dan faktor-faktor eksternal yang
bersumber dari lingkungan di mana organisasi bergerak1.
Berdasarkan kompetensi , kendala yang dapat muncul adalah
langka tidaknya keahlian atau ketrampilan tertentu. Telah dimaklumi bahwa dalam
kehidupan organisasional yang semakin kompleks dewasa ini, semakin
beranekaragam keahlian dan ketrampilan yang diperlukan. Di pasaran kerja,
tersedia tidaknya orang yang memiliki pengetahuan dan ketrampilan tertentu itu
bukanlah hal yang kaonstan.Artinya, bisa saja terjadi bahwa pada suatu ketika
tertentu terjadi kelangkaan orang yang memiliki keahlian atau ketrampilan
tertentu. Dalam hal demikian sikap dan tindakan para pencari tenaga kerja baru
pasti lain dibandingkan dengan jika tidak menghadapai suasana kelangkaan.
Perbedaan sikap dan tindakan itu ditentukan pula oleh urgen tidaknya organisasi
memperkerjakan tenaga kerja yang pengetahuan dan ketrampilannya sulit dicari
itu.Dalam hal demikian organisasi bahkan mungkin harus merubah kebijaksanaan
tertentu , seperti ketidaksamaan promosi dari dalam atau kebijaksanaan tentang
tingkat gaji yang akan diberikan. Karena kalau tidak , organisasi tidak akan
memperoleh tenaga kerja yang baru yang sangat diperlukannya itu.
Di sisi lain tidak
dapat disanggah bahwa para perekrut tenaga kerja memegang peranan penting dalam
menentukan siapa di antara pelamar yang diterima dan siapa yang ditolak.
Merupakan kenyataan pula bahwa organisasi pemakai tenaga kerja mengharapkan
bahwa para pelamar bermutu setinggi mungkin. Menggabungkan kedua hal itu dalam
proses seleksi menuntut standar etika yang tinggi dari para perekrut tenaga
kerja baru karena hanya dengan demikianlah tenaga-tenaga bermutu yang diterima
dan dipekerjakan.
Memegang teguh norma-norma etika menuntut antara lain
disiplin pribadi yang tinggi, kejujuran yang tidak tergoyahkan, integritas
karakter serta obyektivitas yang didasarkan pada kriteria yang rasional.Hal ini
sangat penting karena tidak mustahil perekrut dihadapkan kepada berbagai macam
godaan , seperti menerima hadiah, disogok oleh pelamar, mengkatrol nilai seleksi dari pelamar yang mempunyai
hubungan darah atau kaitan prinordial lainnya atau hal – hal lain yang
mengakibatkan seseorang perekrut mengambil keputusan yang didasarkan pada
pertimbangan – pertimbangan subyektif.
Bahkan tidak mustahil perekrut
dihadapkan kepada situasi dilematik dalam menjalankan tugasnya. Misalnya
seorang manajer tingkat tinggi dalam organisasi meminta agar lamaran
keponakannya “mendapat perhatian khusus”. Dalam hal nilai keponakan manajer
tersebut dalam proses seleksi membernarkan diterimanya yang bersangkutan
sebagai pegawai baru, perkerut dapat memberi keputusan menerima lamaran
tersebut dengan hati nurani yang tenang. Dilema baru timbul apabila pelamar
yang bersangkutan tidak memenuhi syarat. Di satu pihak, karier dan nasib
perekrut bisa terancam kalau lamaran keponakan atasannya itu ditolak. Di lain
pihak sebagai perekrut yang bertanggung jawab menerima lamaran yang tidak
memenuhi syarat itu berarti mempekerjakan bukan pelamar yang terbaik.
Situasi demikian sering
dihadapai oleh perekrut dalam masyarakat yang berbagia ikatan primordialnya,
seperti kesukuan dan kedaerahan masih kuat. Ditambah lagi dengan kenyataan
bahwa dalam berbagai masyarakat tradisional , berlaku apa yang dikenal dengan
“extended family system” berbeda dengan masyarakat “maju” di dunia Barat di
mana norma-norma kehidupan seseorang didasarkan pada “nucleus family system”.
Kiatnya nampaknya terletak pada kemampuan perekrut untuk
memegang teguh norma-norma etika organisasi sambil memperhitungkan nilai-nilai
sosial budaya masyarakat di mana dia hidup dan berkarya.
Dalam proses seleksi, ada tiga jenis tes yang ditempuh oleh para pelamar
yaitu:
a. Tes
Psikologi
b. Tes
yang menguji pengetahuan pelamar
c. Tes
pelaksanaan pekerjaan.
Dalam
proses seleksi yang berdasarkan fokus informasi perilaku yang ingin didapatkan
dari para pelamar maka tes psikologi adalah salah satu pilihan . Tes psikologi
dimaksudkan untuk mengukur berbagai faktor kepribadian dan diperuntukkan bagi
upaya mencocokkan kepribadian pelamar dengan pekerjaan yang tepat baginya.
Misalnya , ada tes psikologi yang mengukur kepribadian dan temperamen seseorang
yang diharapkan menduduki jabatan eksekutif tingkat puncak, tingkat menengah
dan tingkat rendah. Ada pula tes psikologi yang mengukur kreativitas dan daya
nalar seseorang. Jelaslah bahwa para petugas yang bertanggungjawab melakukan
seleksi para calon pegawai, perlu mengenali dan memahami manfaat dari berbagai
tes psikologi tersebut. Dengan demikian mereka dapat pula mengetahui untuk
jenis pelamar yang bagaimana tes psikologi apa yang tepat digunakan untuk
mengukur apa.
Berkaitan dengan seleksi selain tes
psikologi, Tes pelaksanaan Pekerjaan. Bagi
yang yang diproyeksikan untuk
melaksanakan berbagai kegiatan operasional diselenggarakan berbagai jenis tes
seperti tes yang mengukur kemampuan visualisasi spartial bagi calon juru gambar
dan tes yang mengukur kemampuan seseorang calon juru tulis mengingat angka-angka
dan nama-nama.Bahkan tes yang mengukur kemampuan seseorang menghadapi situasi
nyata dalam pekerjaan seperti mengambil keputusan dan memecahkan masalah yang
diperuntukkan bagi mereka yang akan menduduki jabatan manajerial dan
profesional tersedia pula.
Tes kepribadian tidak dibatasi waktu dan
tidak mengukur ketrampilan pemecahan masalah spesifik. Profil kepribadian yang
dirancang dengan tepat dapat mengukur dan mencocokkan dimensi kepribadian yang
sesuai dengan persyaratan pekerjaan. Sebagai contoh , riset menunjukkan bahwa
dua prediktor penting untuk keberhasilan tenaga penjualan adalah ekstroversi
dan ketelitian. Kemampuan untuk melakukan tes atas pembawaan-pembawaan tersebut
bisa menunjukkan peningkatan yang signifikan dalam efektivitas seleksi. Pada
organisasi tekhnologi informasi , hampir semua perusahaan besar saat ini
menggunakan tes psikometrik untuk mengidentifikasi para calon manajernya. Para
manajer tersebut dinilai kemampuannya untuk menciptakan perubahan jangka
panjang serta menangani tugas-tugas manajemen sehari hari dan tes kepribadian
dapat membantu mengidentifikasi kedua ketrampilan tersebut. Perusahaan
menggunakan tes Minnesota Multiphasic Personality Inventory (MMPI) , yang
berisi 567 pernyataan yang membantu menentukan tingkat ketakutan, depresi,
mania , kegelisahan dari seorang subyek.2
Dalam
Rekrutmen Asisten Apoteker dan Apoteker secara umum , Peningkatan kompetensi apoteker
(terutama) menjadi isu penting dalam penilaian kualitas lulusan Kampus perilaku yang perlu diperhatikan, contohnya: Dalam
Rekrutmen Apoteker maupun Asisten Apoteker secara umum . Peningkatan kompetensi kefarmasian menjadi isu penting
dalam penilaian kualitas lulusannya3, perilaku yang perlu diperhatikan, contohnya:
a. Mematuhi
janji dan tenggat waktu
b. Memberikan
pekerjaan tepat waktu dan secara disepakati (as agreed)
c. Transparan
ketika dia mengantisipasi masalah atau kesalahan
d. Bertanggung
jawab atas kesalahan
Apabila dilihat secara
Operasional,Perilaku dapat berupa:
a. Berkomunikasi
dengan jelas terhadap semua stakeholder ketika tenggat waktu dan persetujuan
tidak dapat dipenuhi
b. Terus
bekerja secara efektif sementara tidak kehilangan pandangan dari standar
kualitas
c. Melompat
ke pelanggaran bagi rekan-rekan jika masalah timbul atau ada kesalahan
d. Membuat
kesepakatan yang telah dibuat bertanggung jawab untuk perilakunya sendiri 4
Kejujuran
dan integritas merupakan pembawaan pribadi penting yang perlu dipertimbangkan
dalam proses seleksi.2
Dalam
kompetensi para pelamar yang diharapkan oleh para pemilik organisasi selain tes
psikologi , juga tes pengetahuan. Misalnya ada tes yang mengukur pengetahuan
seseorang tentang teori dan praktek kepemimpinan , tes yang mengukur kemampuan
pemahaman seseorang tentang ruang , waktu , angka-angka dan kecekatan menangkap
makna petunjuk verbal dan lain sebagainya.
Betapapun
pentingnya berbagai tes di atas diselenggarakan, kiranya tidak boleh dilupakan
bahwa penggunaannya hanya sebagai alat untuk memperoleh informasi secara lebih
obyektif mengenai pelamar1.
Dalam
rekrutmen dan seleksi tersebut di atas, salah satu hal yang terbaik adalah
menilai perilaku calon karyawan terutama asisten apoteker.
III. DAFTAR PUSTAKA
1.
Siagian, Sondang P.,MPA,Prof. , Manajemen
Sumber Daya Manusia, Ed.I, Cet.15 –Jakarta Bumi Aksara,2008
2.
Mondy,R.Wayne , SPHR, dkk., Human Resource Management , Jilid I Ed.10 ,
Bab 5 , Hal.131-132, Bab 6 Hal183, Copyright @by Penerbit Erlangga, 2008
3.
Susilo Diono , drg. , MPH , KEBIJAKAN UJI KOMPETENSI DAN
IMPLIKASINYA, Pusat Standarisasi,
Sertifikasi dan Pendidikan Berkelanjutan SDM Kesehatan
4.
53 competension ,copyright by @TMA
Method,Google Play, 1999-2014
5.
Spencer
and Spencer dalam Palan , Competencies (2007:84)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar